Menuju Hari Inspirasi di Dusun Aro Inaq – MI Nawwarul Uyun

Badan ini kembali segar setelah guyuran air membasahi tubuh di pagi hari. Waktu itu jarum jam sudah menunjukkan angka 04.10 menit, artinya kalau di Jakarta masih jam 3an lah ya. Makanya agak sedikit segan sih sebenarnya untuk membuka mata, pengennya dibablasin saja sampai adzan subuh waktu lokal hehe. Alhamdulillah, antrian mandi belum begitu panjang, sehingga bisa mengguyurkan air lebih lama. Satu persatu kakak relawan bergantian mandi pada dua kamar mandi yang tersedia. Sekitar jam 06.30 WITA kami berangkat dari basecamp menuju ke sekolah. Ada beberapa relawan yang malamnya tidak ikut menginap di basecamp, langsung menuju MI Nawwarul Uyun. Pun begitu dengan fotografer, mereka sudah mencuri start duluan ke sekolah, pastinya untuk mencari momen sebelum anak didik datang ke sekolah.

Sumber foto : Kak Andrias Indra

Ayooo adik-adik baris yuuuk“, terdengar suara lantang kak Key Amelia @xtraordinarykey salah satu fasil keren kami yang sebelumnya hanya saya kenal wajah dan suaranya dari Zoom Meeting dan komen di grup saja, hari ini bisa bertemu langsung di sekolah. Memang dari awal ketiga fasil kami ini kak Key Amelia, kak Agus Salim dan kak Yola, kelihatan sudah bagi-bagi tugas dan saling koordinasi. Pokoknya angkat jempol dan apresiasi bangetlah dengan cara kerja dan koordinasi mereka. Sehingga kami sebagai pengajar yang saat Hari Inspirasi ada 16 orang, Kak Ade (Pengrajin & Teknisi), Kak Vera (Mahasiswa S2), Kak Lalu Hulfian (Dosen), Kak Gina (Teller Bank), Kak Hikmah (Guru), Kak Topan (Guru), Kak Rangga (Mahasiswa S2), Kak Yuyun (Sanitarian), Kak Ega (Petani), Kak Adie (Founder Pasarmu.id), Kak Layli (Guru), Kak Putri (Dokter), Kak Rosalina (Guru), Kak Tiwi (Mgr. Geopark Rinjani), kak Juna (Auditor) dan saya sendiri Agus ST (Perencana Keuangan), merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka. Terima kasih kakak-kakak fasil kece badaiiii.

Setelah barisan tersusun per kelas dan tiap-tiap kelas didampingi para relawan, acara opening pun kami mulai. Tampak para dokumentator kak Andrias, kak Novi, kak Panca dan kak Ali dari awal sudah ambil posisi masing-masing dengan senjata ampuh mereka, yang pastinya dinantikan hasil jepretannya. Dimulai dari perkenalan singkat relawan pengajar serta dilanjutkan dengan ice breaking agar terjadi kedekatan dengan para anak didik. Kak Gina dan kak Topan menjadi andalan kami untuk memimpin ice breaking.

Suasana mulai terbangun, pancaran wajah ceria dan semangat serta senyum yang mengembang dari anak didik menjadi pemantik semangat kami untuk menginspirasi hari ini. Seperti tagline yang sering kita dengar “Sehari Mengajar, Selamanya Menginspirasi”, terkadang lebih banyak relawannya lah yang malah terinspirasi dengan semangat para anak didik untuk terus bersekolah yang tak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang “layak” buat mereka. Tergambar jelas, mereka masih menggunakan sandal jepit untuk kesekolah, ruang kelas hanya 3 untuk digunakan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, bangunan sekolah yang sangat miris kondisinya, bangku dan meja belajar seadanya. Boro-boro perpustakaan yang harusnya menjadi jendela dunia buat mereka – buku paket belajarpun sudah tanpa sampul, lepas lemnya. Tapi mau tidak mau itulah yang mereka gunakan. Aaah pokoknya siapapun yang melihat kondisi ini akan merasa sedih dan prihatin deh. Tapi semangat anak didik ini luar biasa, mereka tetap tersenyum bahagia untuk menatap masa depan, inilah yang terkadang membuat relawan selalu terinspirasi. Bahkan menjadi “nyandu” untuk  terus hadir di Kelas Inspirasi-Kelas Inspirasi.

Usai sudah kegiatan opening dan kami lanjutkan proses belajar mengajar untuk mengenalkan profesi para relawan di kelasnya masing-masing. Karena ruang kelasnya hanya ada tiga, sementara rombongan belajarnya (rombel) ada 6, kami pun menyulap ruang luar kelas menjadi tempat pembelajaran terbuka. Jadi ada 3 rombel yang didalam kelas dan 3 rombel lagi di luar kelas, ruang terbuka. Itulah mengapa jadwal mengajar kami sepakati secara moving class, agar nanti  yang berpindah kelas itu anak didiknya, sedangkan pengajar tetap berada di kelasnya masing-masing. Tiap kelas ada 2 orang relawan pengajar dan saya pun tandem dengan kak Gina yang profesinya sebagai teller bank. Jadi tik-tokannya enaklah karena saling berkaitan dengan profesi saya sebagai perencana keuangan yang salah satu instrumennya adalah mengenalkan uang dan menyimpan uang di bank. Senangnya lagi anak didik rata-rata sudah mengenal uang, sehingga kita tinggal memasukkan dari sisi literasi dan profesi yang berkaitan dengan uang.

Sumber foto : kak Andrias Indra

Kakak fasilnya memang jago sih, mereka bisa menyelaraskan dua profesi yang berbeda namun memiliki keterkaitan antara satu dan lainnya. Sehingga tandemnya bisa berjalan natural dan saling mengisi antara satu pengajar dengan pengajar lainnya. Tak heran mengapa hingga anak didik di tiap kelas menampakkan antusiasme yang tinggi.

Proses mengajar ini kami bagi menjadi beberapa sesi, tiap pengajar ada yang dapat 3 atau 4 kelas sampai waktu jam sekolah berakhir. Ada yang menarik perhatian saya saat mengajar di mana muridnya hanya diisi oleh tiga orang siswa, yaitu Nabila, Yulia dan Irma. Mereka ini anak didik/siswa kelas 3, apakah memang hanya mereka bertiga saja sehari-harinya atau ada siswa lainnya namun tidak hadir saat itu. Kebetulan saya tidak sempat mempertanyakan hal itu, karena tertarik dengan keramahan dan kepolosan mereka. “Kak Agus, saya dipanggil Bila saja yaa”, celetuk Nabila. “Iyaa kak saya juga dipanggil Yuli aja kak“, celoteh dari Yulia. “Kalau saya panggil Irma kak Agus”, tambah si Irma. Saya tersenyum, mengikuti keinginan mereka dan saya ulangi memanggil namanya satu persatu, “Oke Yuli, Irma dan Bila yuuk kita mengenal profesi Perencana Keuangan“. Suatu pembukaan yang sangat menarik bagi saya. “Bang”nya meminjam metode BOMBER-B bagi para relawan pengajar sudah masuk nih, sehingga lebih mudah dan asyiik untuk menyampaikan pesan.

Tibalah kami di penghujung acara setelah semua rundown moving class terselesaikan. Para siswa dikumpulkan di luar ruang kelas menuju titik kumpul yang sudah dipersiapkan. Kegiatan akan dilanjutkan dengan closing class. Kak Key dengan antusias berdiri di tengah lingkaran memandu jalannya acara, memacu semangat, dan pastinya membuat heboh agar semuanya terus ceria.

Acara yang sudah kami persiapkan dimunculkan satu persatu. Artis pertama yang diturunkan adalah kak Ade @ade_supardi dengan menampilkan trik sulap yang berbasis ilmu pengetahuan. Awalnya kelihatan seperti magic yang semua siswa diminta untuk sama-sama membaca mantra, seolah-olah kak Ade punya kemampuan untuk memberhentikan keluarnya air dari botol dan bisa hehe. Dilanjutkan dengan salah seorang siswa diminta untuk melakukan hal sama dan ternyataaaa, gagal saudara-saudara. Mulai heboh deh tuuh pemirsa, hingga akhirnya triknya dibuka oleh kak Ade dan dijelaskan secara ilmiah. Sangat menarik digunakan untuk metode pembelajaran. Dan dilanjutkan dengan beberapa trik sulap lainnya.

Sumber foto : Kak Novi

Setelahnya dimunculkan lagi talent berikutnya yaitu kak Topan sang guru kreatif, untuk memimpin ice breaking. Suasana menjadi ramai dan seru. Akhirnya setelah membaca doa, dilanjutkan kan dengan acara puncak yaitu menuliskan cita-cita para siswa dipohon cita-cita yang sudah disiapkan. Pohon cita-cita hasil kreasi dari kak Ade akan menjadi saksi kesuksesan dalam meraih cita-cita bagi para siswa-siswi MI Nawwarul Uyun – Aro Inaq. Semoga cita-cita kalian semuanya menjadi nyata dan kami doakan agar dari MI Nawwarul Uyun menghadirkan tokoh nasional yang nantinya dapat membangun pendidikan yang lebih baik bagi dusunnya, desanya, kabupatennya dan negara Indonesia tentunya. Sampai jumpa di pintu gerbang kesuksesan ya adik-adik semuanya. Doa dan harapan kami bersamamu, maju terus pendidikan Indonesia.

Sumber foto : Kak Novi

Lombok Timur, Sabtu 29 Januari 2022
@agus_stanjung
Relawan Pengajar – MI Nawwarul Uyun Aro Inaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.