Menjadi Bagian Fasilitator Kelas Inspirasi Lombok 7

Sepekan berlalu. Sabtu, 29 Januari 2022 , Hari Inspirasi telah berlangsung di MI Pogem Petiwung Lombok Tengah. Kelas Inspirasi Lombok 7, kedua kalinya saya ikuti. Kali ini saya mencoba memilih sebagai fasilitator. Menjadi fasilitator, tidak ada sedikitpun bayangan bagaimana cara kerjanya. Maka karena itu, saya bolak-balik via online bertanya kepada kakak-kakak yang lebih dulu terjun pada kegiatan ini. Berharap nantinya tidak mengecewakan diri sendiri maupun orang lain.

Setelah briefing pada awal Januari. Sebagai fasilitator, hal yang pertama kali kami lakukan adalah survei lokasi dengan mengandalkan Google Maps. Memasuki lokasi tujuan dengan kondisi jalan yang belum diaspal dan sedikit berbatuan. Lokasi sekolah yang berada di kanan jalan membuat saya tertegun. Bangunan yang berdinding bambu dengan perlengkapan meja dan kursi yang masih dikatakan layak pakai dan minim perlengkapan sekolah. Bangunan ini terdiri dari 2 ruang kelas dan 1 ruang kelas yang berdinding batako gelap dan pengap. Lebih tertegun lagi ketika kami diajak masuk ke ruangan yang saya berpikir itu hanya ruang guru. Nyatanya ada anak-anak yang sedang belajar disana. Ruangan tersebut terbagi menjadi; ruang kepala sekolah, ruang guru, musholla, dan perpustakaan mini.

Suasana kelas berdinding bambu di MI Pogem Petiwung

Mundur sedikit sebelum memasuki lokasi sekolah. Di sebelah jalan raya, ada pembangunan yang memakan lahan berhektar-hektar. Yang namanya tidak asing lagi setelah diresmikan oleh Presiden RI tahun lalu, Pertamina Mandalika International Street Circuit. Sirkuit ini begitu tertata sedangkan sebelah jalan masih terkesan seperti layaknya sebuah desa pada umumnya dan ada sekolah berdiri di sana. Yang seharusnya memiliki ruangan lengkap agar proses KBM berjalan dengan semestinya. Dengan demikian pihak sekolah tidak akan menunggu anak-anak kelas 1-3 pulang sekolah supaya anak-anak didik kelas 4-6 bisa belajar. Apakah itu akan maksimal bagi anak-anak yang menuntut ilmu? Jelas tidak, waktu yang paling enak untuk belajar adalah pagi hari sedangkan jika terus-menerus mendapatkan bagian di waktu siang, saya sangat meragukan. Pada jam-jam tersebut badan mulai lelah dan mengantuk. Anak-anak yang menunggu giliran belajar tidak memanfaatkan pagi itu dengan belajar atau membaca. Melainkan hanya bermain, walaupun ada perpustakaan mini. Buku-buku yang tersedia sangat jauh dari kata lengkap, hanya tumpukan buku-buku lama dan ini tidak menarik minat baca pada anak. Miris rasanya jika terus-menerus seperti ini.

Balik lagi ke tujuan utama. Kami fasilitator ada kak (Mae, Ulan, Kiki dan saya) adalah orang-orang yang baru dan tidak punya pengalaman sedikitpun. Maka pada sebelum dan berlangsung Kelas Inspirasi banyak minusnya. Mulai dari rundown acara yang belum rapi, komunikasi dengan kakak-kakak relawan yang sedikit pasif dan ada suasana via online sedikit canggung. Maka kami memutuskan untuk bertemu (malam harinya) walaupun cuaca tidak bersahabat. Iya kami tidak ingin ada suasana canggung pada Hari Inspirasi.

Pada Hari Inspirasi cuaca yang cerah dan terik matahari yang mulai menyengat. Karena sekolah kekurangan ruang kelas, kami menancapkan papan sebagai tanda kelas dan belajar di ruang yang pernah saya sampaikan sebelumnya supaya KBM berjalan sesuai jadwal yang telah disusun. Melihat kakak-kakak relawan begitu semangat, keringat bercucuran dan rasa haus yang begitu terasa. Walaupun demikian semangat itu mengalir kepada anak-anak hingga mereka mengikuti kegiatan sampai selesai.

Suasana mengajar di luar kelas

Ketika kegiatan closing anak-anak menggantungkan cita-cita pada pohon yang sudah tersedia. Cita-cita mereka belum terkontaminasi, jika melihat anak-anak kota, kebanyakan menginginkan jika besar nanti mereka ingin menjadi artis, youtuber dll. Sedangkan di sini masih sama seperti saat saya masih kecil pada umumnya ingin menjadi dokter, polisi, tentara, atau guru.

Cita-cita yang masih belum terkontaminasi

Setelah Kelas Inspirasi telah usai keakraban mulai terasa pada kami (fasilitator dan kakak-kakak relawan). Saya memperhatikan cara dari mereka mengobrol, bercanda seperti sudah saling mengenal lama layaknya sedang reuni. Ada kebahagiaan tersendiri ketika memperhatikan mereka. Oh ya, karena begitu panas dan gerah kami disuguhi kelapa muda oleh pihak sekolah. Segerrr yoo. Kami juga punya panggilan akrab kalo anak Jaksel bilang, “bestie” wkwk. Kami juga pergi ke bukit Seger disana spot untuk berfoto bersama yang nampak sekali tikungan Sirkuit Mandalika, hehe.

Bersama para bestie relawan Kelas Inspirasi

Note for my self : Di sini saya belajar untuk mengingatkan diri untuk berpikir positif, bagaimana seharusnya merespon. Bilang ke diri sendiri, “Mungkin ketika mereka merespon seperti ini sambil senyum-senyum tapi kamu baca dengan intonasi sensitif. Hayuu ganti intonasinya Hen.”

Saya juga belajar dari kakak-kakak relawan yang effort-nya luar biasa untuk berbagi. Melihat domisili kakak-kakak relawan membuat saya bertanya pada diri sendiri. Saya pribadi akan berpikir berulang kali jika ingin mengikuti kegiatan di luar pulau.

Menjadi seorang inspirator tidak mesti harus mengenyam pendidikan tinggi untuk berbagi ilmu. Tidak mesti harus memiliki background title sekian. Jika niat sudah lurus dan dari hati yang tulus, maka akan sampai dan diterima dengan hati yang terbuka. Lebih nempel bukan? Dan akan diingat terus.

Terimakasih banyak telah memberikan kesempatan menjadi fasilitator untuk kegiatan Kelas Inspirasi Lombok 7. Akan diingat terus, tidur tak tenang karena kepikiran. Apalagi yang bikin hati ‘dag dig dug’ karena public speaking saya nol besar dan di sini harus bisa speak up. Semoga nanti bisa ikut lagi yeess. InsyaAllah

Baiq Nurhaini (Heny) – @bqnur__
Relawan Fasilitator – MI Pogem Petiwung

Leave a Reply

Your email address will not be published.