Tergugahnya Hati, Di Kelas Inspirasi

Assalamualaikum adik-adik dan selamat pagi”, sapaku di awal pertemuan dengan para sahabat cilik di lokasi tempatku berbagi inspirasi. Dan dengan cerianya, mereka membalas sapaku secara lantang tanpa dikomandai, “waalaikumsalamawarahmatullahiwabarokatuh”. Hari itu, tepatnya tanggal 6 April 2015, untuk ketiga kalinya, saya menjadi relawan pengajar pada kegiatan kelas inspirasi yang berlokasi di SDN 2 Tetebatu Lombok Timur. Bersama dengan relawan lainnya yang berasal dari luar kota, kami mengambil alih kegiatan proses belajar mengajar di sekolah tersebut selama jam sekolah di hari itu. Kedatangan kami disambut baik oleh seluruh elemen sekolah.

Mengajar bukanlah hal yang asing bagi saya. Mengajar sudah menjadi rutinas harian saya selaku seorang yang berprofesi sebagai Dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Nusa Tenggara Barat. Meskipun demikian, ketika akan mengajar pada kegiatan kelas inspirasi, saya harus tetap mempersiapkan segala sesuatunya secara optimal dikarenakan peserta didik dan orientasi materi yang akan disampaikan berbeda. Pada kegiatan kelas inspirasi, saya mengajar anak usia 5 – 12 tahun. Masa di usia tersebut merupakan masa bermain. Oleh karena itu, penyampaian materi di kelas lebih banyak didominasi dengan bermain. Orientasi materi utama dari kelas inspirasi adalah mengenalkan berbagai macam profesi yang bisa dipilih oleh anak untuk berani bermimpi akan masa depan mereka. Namun, dalam penyampaiannya dibebaskan kepada para relawan pengajar.

IMG_0134

Materi dan cara penyampaian yang saya lakukan berbeda di setiap kelas yang ditugaskan kepada saya saat itu.  Kelas II merupakan kelas pertama saya untuk berbagi inspirasi pada putaran pertama. saya mengawali kegiatan dengan ice breaking di halaman sekolah. Saya dibantu oleh relawan lain yang bernama kak Sika. Para sahabat cilik kelas II pun begitu antusias mengikuti instruksi yang diberikan. Setelah itu, kami mengarahkan mereka untuk memasuki ruang kelas. Sesampainya di kelas, kami membagikan kertas origami yang sudah saya siapkan sebelumnya.  Kemudian, mengarahkan sahabat-sahabat itu untuk menuliskan cita-cita mereka di kertas tersebut. Pada umumnya, mereka bercita-cita menjadi guru, ustadz/ustadzah, polisi, dan dokter. Mereka bercita-cita sebatas profesi yang biasa mereka lihat. Ketika saya menanyakan tentang profesi yang tertera di name card saya, yaitu dosen, semua sahabat cilik itu belum ada yang tahu. Dan pada kesempatan itu, saya akhirnya menjelaskan seperti apa profesi dosen itu. Tidak hanya dosen, saya pun memperkenalkan kepada mereka profesi lainnya diantaranya pilot. Lalu, Ada satu diantara mereka yang menarik perhatian saya. Namanya Antoni. Dia bercita-cita ingin menjadi manusia. Kemudian, saya mendekatinya dan bertanya, “Antoni, sungguh bercita-cita ingin menjadi manusia? Kenapa?”. Dan  Antoni hanya menjawabnya dengan tersenyum. Kemudian, saya bertanya lagi, “kenapa antoni bercita-cita menjadi manusia”. Kali itu, Antoni hanya memilih diam. Saya pun penasaran dengan prilaku Antoni. Dia tidak menjawab karena belum mengerti apa yang akan disampaikan atau kemungkinan hal lainnya. Jujur saja, saya sangat penasaran. Kemudian saya mengalihkan suasana dengan mengarahkan semua siswa untuk menggambarkan cita-citanya. Dan mereka pun semua kembali fokus dengan gambar mereka masing-masing. Maklumlah anak usia kelas 2, gambar mereka seadanya saja. Saya lalu mendekati Antoni kembali dan melihat hasil karya tentang imajinasi dia mengenai manusia. Gambarnya berbeda lagi dengan lainnya. Antoni mampu mengambarkan manusia yang utuh, namun bentuk kepala yang memanjang ke atas. Sayang sekali, saya belum mempelajari tentang psikologi anak melalui gambar. Namun demikian, saya tetap memotivasi dia agar esok dan seterusnya Antoni menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan Negara serta berani untuk bermimpi atau bercita-cita setinggi langit.

Pada putaran kedua, saya mendapatkan giliran di kelas I. Saya mengawali kelas dengan mengajak mereka menyanyikan lagu mengenal bilangan dalam versi Bahasa Arab. Alhamdulillah, sahabat cilik kelas I sudah mampu menyanyikan dengan lancar. Kemudian, dengan menggunakan alat bantu puzzle, saya mengajak mereka bermain puzzle angka dalam versi bahasa Arab. Puzzle yang saya gunakan angka sederhana saja. Mereka sangat antusias dan berebut untuk memainkan puzzle di depan kelas. Dan saya pun memandu mereka untuk belajar disiplin secara bergantian maju ke depan kelas memainkan puzzle. Setelah itu, saya mengalihkan perhatian mereka dengan mengajarkan yel-yel untuk memotivasi mereka agar tetap percaya diri dalam kondisi apapun mereka. Yel-yel tersebut adalah “saya anak hebat, saya anak cerdas, saya anak luar biasa, yes…yes..yes. di kelas I ini, saya tidak mengenalkan tentang profesi. Proses belajar di kelas lebih banyak mengarah ke hal-hal yang ringan dan membuat sahabat-sahabat cilik itu senang.

Di akhir putaran pelaksanaan kelas inspirasi, saya mendapatkan giliran di kelas IV. Di kelas terakhir ini, saya berbagi pengalaman belajar matematika yang mudah dan menyenangkan dengan sahabat-sahabat cilik.  Perkalian dengan menggunakan jari merupakan topik kami. Saya memfokuskan ke perkalian 3, 6, 7, 8, dan 9.  Perlahan dan pasti Sahabat-sahabat cilik itu dituntun hingga mampu mempraktikkan sendiri. Setelah memastikan mereka sudah bisa, maka saya melanjutkan materi dengan mengenal cita-cita mereka.  Saya kemudian memfasilitasi mereka untuk maju ke depan kelas, menyampaikan cita-cita mereka secara lisan yang disertai alasan kenapa mereka memilih cita-cita tersebut. Para sahabat cilik yang wanita terlihat malu-malu melakukannya. Dengan terus mensupport mereka, akhirnya satu per satu memberanikan diri tampil di depan kelas. Seperti halnya di kelas II, para sahabat cilik itu umumnya bercita-cita sebatas yang sering mereka lihat dikesehariannya. Ada yang hanya ingin meneruskan pekerjaan orang tuanya untuk bertani atau pun menjadi nelayan. Bahkan ada yang memilih untuk “merariq” saja. Sungguh miris, di usia yang masih belia, memilih untuk menikah. (“Kondisi Ekonomi Mematahkan Mimpi”). Akhirnya, kelas kami akhiri dengan permainan melatih konsentrasi. Dan secara serentak dari semua kelas, kegiatan KI diakhiri dengan pelemparan pesawat kertas yang bertuliskan cita-cita dari masing-masing sahabat.

Terbanglah tinggi wahai pesawatku, terbangkanlah cita-citaku hingga menembus awan dan menggapai langit ketujuh.

Kegiatan kelas inspirasi selalu memberikan kesan tersendiri di setiap lokasi yang membuat hati ini selalu dan selalu ingin berbagi inspirasi dimana pun itu. “Kelas inspirasi bikin nagih”, kata seorang relawan KI. Tak banyak yang dapat dilakukan untuk mereka, namun besar harapan, semoga para sahabat kecil di Tetebatu tetap menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri dengan segudang cita-cita.

Special thanks for my lovely husband, “Surya Sriyama”, yang telah mendaftarkan saya menjadi relawan KI tanpa sepengetahuan saya pada KI Bali 2, yang akhirnya saya jadi ketagihan untuk ikut KI.

Oleh: Alfira Mulya Astuti

You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.