Gili Beleq dan Gili Re Disatukan Laut

gili beleq, gili re, lombok
Laut yang membatasi Gili Beleq dan Gili Re bukanlah pemisah dua pulau yang masuk dalam Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur itu. Selat sepanjang 300 meter itu justru menjadi penyatu dua pulau itu. Mereka disatukan oleh anak-anak sekolah.*****Rabu siang (23/9), sejumlah murid sekolah dasar (SD) rapat kecil di pinggir dermaga. Jen Azwar, murid kelas 3 berpendapat sebaiknya mereka jalan kaki saja. Orang tuanya tidak akan menjemput siang itu. Dia turun sebentar mengukur kedalam air laut. Masih aman untuk dilewati jalan kaki oleh rombongan paling kecil, Arya, murid kelas 1.

Murid-murid yang lebih besar hanya mengangkat celana mereka. Sementara Arya membuka semua pakaiannya. Celana, baju, sepatu yang sebelahnya sudah bolong dibuka. Semua dimasukkan dalam tas. Tas dijinjing di atas kepalanya. Arya kemudian berjalan mengikuti kakak-kakak kelasnya itu. Tanpa komando, yang paling besar di depan, yang paling kecil (Arya) di tengah, lalu yang murid yang lebih besar berjalan di belakangnya.

Siang yang panas itu, seperti biasa Jen dan teman-temannya dari Gili Re menunggu perahu jemputan. Azan Zuhur sudah terdengar dari masjid di pulau tempat mereka bersekolah, Gili Beleq. Ya, anak-anak Gili Re ini bersekolah di Gili Beleq. Pulau itu dibatasi selat sepanjang 300 meter. Di Gili Re yang luasnya 1,9 hektare (Ha) tidak memiliki sekolah. Sekolah SD dan SMP yang jadi satu (Satu Atap) berada di Gili Beleq. Setiap hari anak-anak Gili Re berangkat sekolah ke Gili Beleq. Dan itu sudah dilakoni anak-anak Gili Re sejak tahun 1983. Sebelum itu, mereka bersekolah di daratan Pulau Lombok.

gili beleq, gili re, lombok

Saya tertegun cukup lama memandangi anak-anak itu. Walaupun murid yang lebih besar bisa saja pulang duluan, tapi mereka menunggu pulang bersamaan murid yang kecil. Begitu juga murid yang kecil, yang kelas 1, walaupun pulang sekolah lebih awal, mereka biasanya menunggu teman untuk pulang bersama. Apalagi jika terpaksa harus “berenang” menyeberangi selat itu.

“Sudah biasa pak kalau air surut,’’ kataSalwa, murid kelas 4 ketika saya menanyakan apakah “berenang” menyeberangi selat itu tidak berbahaya.

Anak-anak ini lahir dan besar di pulau kecil, sekitar 15 menit naik perahu dari daratan Pulau Lombok, di Telong-Elong Kecamatan Jerowaru. Laut adalah keseharian mereka. Mereka sudah bisa membaca alam. Tahu kapan aman untuk menyeberangi selat itu, tahu kapan harus sabar menunggu jemputan perahu.

gili beleq, gili re, lombok, siswa pesisir

Begitu sampai di seberang, Gili Re, tiba-tiba beberapa murid yang lebih besar kembali ke arah Gili Beleq. Kali ini mereka mendayung perahu. Seragam sekolah masih melekat di tubuh mereka. Saya mulai curiga ketika mereka sampai pertengahan, di belakang saya tak ada lagi anak-anak sekolah yang menyeberang. Saya sadar, anak-anak itu ingin menjemput saya. Sepertinya mereka mengira saya takut untuk menyeberangi selat itu dengan jalan kaki. Saya pun melambaikan tangan sambil berteriak agar mereka kembali. Saya tak akan menyeberang hari itu. Dengan sigap mereka membalikkan arah perahu kembali ke Gili Re sambil melambaikan tangan. Perkenalan singkat kami setengah hari itu benar-benar berkesan.

Jika laut sedang tidak bersahabat, anak-anak Gili Re akan setia menunggu perahu. Walaupun orang tua mereka tahu jam pulang sekolah, tidak langsung begitu saja datang menjemput. Siang itu bisa jadi mereka masih di keramba atau sedang mencari ikan di lautan sekitar. Biasanya siapa yang paling cepat dijemput, akan ramai-ramai menumpang di perahu itu. Praktek yang mungkin langka kita lihat di “daratan”, anak-anak sekolah yang dijemput mobil oleh orang tuanya, memberikan tumpangan pada temannya yang satu arah.

Pagi hari ketika jam sekolah sudah mulai, anak-anak dari Gili Re akan berbaris rapi di dermaga sebelah barat pulau yang mereka tinggali. Pagi air masih tinggi. Harus menggunakan perahu. Siapa yang paling siap mengantar pagi itu, maka ramai-ramai akan menyeberangkan anak-anak itu. Kadang, siswa SMP yang menjadi “nakhoda” perahu yang mereka bawa. Itu jika orang tua mereka tidak melaut hari itu.

Walaupun harus menyeberangi lautan, anak-anak ini jarang telat ke sekolah. Disipilin ini juga diperoleh dari guru-guru mereka. Walaupun tinggal di daratan Lombok, jam 07.00 Wita mereka sudah berada di dermaga. Jam 07.15 Wita mereka sudah masuk.
“Walaupun jauh rumah guru, mereka datang pagi memberikan contoh,’’ kata Kepala SD-SMP Satu Atap 8 Jerowaru, Ismail. SD di Gili Beleq itu adalah SDN 5 Pemongkong, masih atas nama desa sebelum pemekaran.

gili beleq, gili re, lombok

Gili Beleq dan Gili Re adalah pulau yang terbentuk dari gugusan karang. Seluruh pesisir pulau itu berupa kerikil dan bebatuan karang. Tak ada pasir putih seperti ciri khas pesisir pantai Lombok Timur bagian selatan.

Begitu juga dengan lautnya, bukanlah tempat snorkeling. Lautnya banyak berlumpur. Kedua pulau itu memang dekat dengan muara sungai. Hutan bakau yang ada di sisi daratan Lombok menjadi bukti adanya lumpur. Begitu juga di Gili Beleq masih ditemukan beberapa titik tempat tumbuhnya mangrove. Berlumpur.

Luas Gili Re hanya 1,9 hektare (Ha), tapi penduduk yang tinggal di sana sekitar 100 KK. Gili Beleq luasnya 16 ha. Ditinggali 140 KK, atau sekitar 400 jiwa. Walaupun lebih luas, sisi barat Gili Beleq masih kosong. Sementara Gili Re sangat padat.

Sisi barat Gili Beleq masih cukup lapang. Sisi barat itu bertebing. Sekitar 3 meter. Begitu juga sisi timur berupa tebing. Di sisi utara tebing,tapi ada sedikit landai. Sama dengan sisi selatan, hanya sedikit tempat landai di pesisirnya. Di tempat landai itulah para nelayan menambatkan perahu mereka. Dermaga utama ada di sisi utara, yang berhadapan dengan Telong-Elong yang merupakan daratan Lombok.

gili beleq, gili re, lombok, nelayan, perempuan

Hanya butuh sejam untuk mengelilingi Gili Beleq. Ketika saya berkunjung pekan lalu, warga sedang “panen” air bersih. Air di Gili Beleq dan Gili Re dialirkan dengan pipa bawah laut dari Telong-Elong. Mereka dijatah seminggu 3 kali. Itulah sebabnya konsentrasi penduduk perempuan tertuju di keran. Satu titik di masing-masing pulau.

Kala kemarau, matahari terasa sangat menyengat. Apalagi pepohonan yang tidak seberapa banyak itu menggugurkan daunnya. Di pesisirnya lebih panas lagi lantaran panas matahari yang dipantulkan kembali bebatuan-karang yang berserakan. Ketika saya berkunjung pekan lalu, hampir semua anak-anak yang saya temui menyapa. Saya mungkin satu-satunya “wisatawan” yang berkunjung ke pulau itu.

“ Daerah ini memang bukan tempat wisata. Lautnya berlumpur,’’ kata Kepala Dusun (Kadus) Gili Beleq Muhsan.

gili beleq, gili re, lombok, keramba jaring apung

Desa Pare Mas sendiri memiliki 9 pulau kecil (gili). Masing-masing adalah Gili Mangkem Kao’, Gili Beleq, Gili Re, Gili Rusa, Gili Kuri, Gili Butak Laki, Gili Butak Perempuan, Gili Sura’,dan Gili Kerate. Gili Beleq dan Gili Re sudah lama ditempati, diperkirakan sejak tahun 1950-an. Sementara di Gili Rusa baru-baru ini ada keluarga yang tinggal. Hanya 4 KK.

“Mereka menjaga keramba,’’ katanya.

Gili-gili lainnya tidak berpenghuni. Konturnya juga sama. Pulau karang yang tak memiliki pasir. Gili Butak Laki bahkan hanya berupa karang seluas 1 are yang mencuat di tengah lautan.

Walau tidak memiliki pasir indah, terumbu karang yang bisa memikat pecinta dunia bawah laut, wisatawan tetap berkunjung ke gili-gilit itu. Tapi mereka hanya mengitarinya. Dalam dua tahun belakangan ini, gili-gili di kawasan selatan Lombok Timur itu sedang naik daun. Pelabuhan ikan pun disulap menjadi pelabuhan wisata.

Para wisatawan umumnya mengunjungi kawasan Pantai Pink yang kesohor itu. Selain itu ada kawasan Pulau Pasir dan Gili Petelu yang memang surganya dunia snorkeling. Nah sebelum mengunjungi lokasi yang sudah menjadi objek wisata itu, wisatawan biasanya keliling sekitar gili-gili tak berpenghuni itu. Mereka sekadar singgah foto-fotoan, atau kadang tak turun. Mereka hanya memandang dari atas perahu.

Liburan dengan keliling dengan perahu ditangkap sebagai peluang oleh nelayan. Saat ini adalah dua jalur penyeberang untuk jasa keliling Lombok Timur selatan, Tanjung Luar dan Telong-Elong. Satu perahu dicarter Rp 500 ribu – Rp 750 ribu untuk satu hari penuh perjalanan.

Peluang ini juga yang ditangkap Muhsan. Begitu dia melihat banyak wisatawan keliling melihat-lihat atau jepret-jepret di gili kawasan selatan itu, dia ambil bagian dengan membangun lesehan. Lesehan tengah laut. Ya Muhsan membangun lesehan persis diantara Gili Beleq dengan daratan Gili Mangkem Kao.  Lesehan itu dinamai Lesehan Apung Sadewa.

Sensasi makan di tengah laut sambil menikmati embusan angin laut menjadi daya tarik lesehan seluas 1 are itu. Para tamu juga bisa melihat ikan yang mencari makan di dekat kolam keramba lesehan. Keberadaan lesehan ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi salah satu tawaran para pemilik perahu pada tamu mereka.

“Alhamdulillah ada saja yang singgah makan, terutama hari libur,’’ katanya.

Lesehan ini juga mulai menjadi lokasi favorit rapa kecil. Pekan lalu para fasilitator PNPM GSC yang rapat di lesehan itu. Dijamin selama kegiatan tidak ada peserta yang bolos. Perahu antar jemput yang disediakan Muhsan mirip odong-odong di daratan. Bedanya odong-odong ini didorong oleh mesin tempel. Butuh keahlian khusus agar mesin tempel itu benar-benar pas, dan odong-odong itu tidak terlalu goyang. (fathul)

gili beleq, gili re, lombok
Photo dan Text by Fathul Rakhman
Disadur dari jajarkarang.com
You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.